Tuesday, July 25, 2017

Menyimpan


Tidak semua perasaan harus diungkapkan, cukup disimpan sendiri. Karena menyadari ada hati lain yang lebih 'deserve' untuk dijaga perasaannya. Walaupun lagi-lagi mengorbankan diri sendiri.

Menyimpan perasaan bukan hal yang sama sekali mudah. Sulit, tapi tenang aku sudah ahli. Sakit, tapi rasanya itu jalan paling tepat yang diambil.

Akan datang masanya untuk tidak lagi memikirkan perasaan orang lain, untuk memenuhi ego diri. Membiarkan diri sendiri memilih mengungkapkan tanpa memikirkan dunia sekitar. Memilih jujur pada diri sendiri dan mengijinkan dunia tahu apa yang aku mau. Tak lagi mengorbankan perasaan untuk orang lain.

Di waktu dan suasana yang tepat, nanti..

Atau, malah..

Tetap memutuskan menurunkan ego, bungkam. Membiarkan hanya diri sendiri dan Allah yang tahu..

Monday, July 24, 2017

Jarak


Topik kali ini terinspirasi dari film random yang tiba-tiba malem ini aku tonton dari iflix. Sebenernya filmnya ga bagus-bagus amat, tapi ada satu celetukan yang ngena. Intinya kaya gini "kenapa kamu pindah ke kota ini? ada yang pengen kamu lupain?" Hahahahaha

Entahlah kenapa aku pengen membenarkan bahwa pertanyaan itu cocok diajukan buat orang yang pindah kota dengan alasan keinginan sendiri. Walaupun itu memunculkan dua opsi jawaban: 'ga ada ko' atau senyuman tanda setuju tanpa melanjutkan jawaban detailnya.

Sebagai orang yang pernah merantau dan doyan bolak balik luar kota, aku merasakan suasana, sikap, dan perasaan yang berbeda ketika kita berada dikota yang beda. Opini pribadi. Setiap kota punya kenangan dan kesan sendiri. Ketika aku tinggal di Bandung, rasanya lebih mudah melepaskan dan melupakan masalah di Semarang seiring aku meninggalkan kota tersebut. Atau ketika sudah kembali lagi ke Semarang kemudian sedang beraktifitas di Jakarta, masalah yang bikin pusing di Semarang tiba-tiba hilang begitu saja. Lega. Dan muncul kembali ketika pulang ke Semarang.

Hal itu semakin mendukung aku buat membenarkan statement pindah kota itu sangat efektif buat melupakan sesuatu dan memulai kehidupan baru.

Aku secara pribadi kagum pada pasangan LDR yang masih utuh hubungannya. Apalagi yang sebelumnya tinggal satu kota, kemudian keadaan memaksa untuk berjarak. Cobaannya semakin bertambah: lingkungan baru, menjaga kepercayaan dan usaha lebih untuk tetap berkomunikasi yang berkualitas. Tentunya pasangan yang berhasil mendapati level kebersamaan yang lebih tinggi.

Jarak membuat banyak aspek berbeda dan menemukan satu hal: menyadari bahwa kita butuh satu sama lain, atau ternyata hanya satu pihak saja.

Memang hal yang tidak mudah, banyak pasangan yang terelimimasi tahap ujian ini. Karena di kota lain lebih mudah melupakan. Karena di kota lain ada yang lebih 'ada' secara fisik. Karena kesibukan masing-masing. Karena suasana yang tak lagi sama. Karena...............pada akhirnya memang tidak ditakdirkan bersama.

Tuesday, July 18, 2017

Self reminder: Think & Act


Go follow your dream.
Do the best.
Prepare your future, but remember you live present.
Idea=think and act!

Make today count and be happy.
Take your very first step to stair of your dream.
All beginning is difficult. Don't worry, time will teach you so much.
The most difficult phase is maintain what you've got.
Hoping for the best and prepare for the worst.

For me, success is not about what have already got but what you could give.
Balance your live with catching your dream, never ending learning and enjoying your quality time with families, friends and your life partner (life-partner? err.. he will come soon, aamiin. wish me luck😅)

All your hardwork will pay off.

#talktomyself

Sunday, July 9, 2017

Self Reminder: Happy


Make your own happiness.
Be nice to all people, although they treat you opposite. Its their problem, not our.

Let go of whatever will ruin your happiness.
Nothing to lose.
Don't worry too much.
Don't expect too much.
Don't overthinking.
Its kill you.

Meet your golden memories: old friends. Its not about quantity, but quality :)
Having great time and nonstopable chit-chat: family. Who always be there for you, since you born :)
Enjoy your daily laugh and conversation: everyday-meet-peoples. Today-friends. They are one of your reasons to smile everyday. Quantity make quality :)

Best of what you can give to people who enter to your live are your time and love.

-----
Its about perspective how you see something. World will be different once you change the way you see.
-----

Saturday, June 17, 2017

Feeling


Sebagai orang yang ternyata setelah beberapa kali ikut test Myers–Briggs Type Indicator (MBTI) dengan hasil dominan Feeling, aku pengen nulis sedikit tentang hal ini: Perasaan. Btw, hasil tepatnya dari 16 pengelompokan kepribadian aku rahasiakan :p coba tebak aku yg mana. Dari SMA sampe sekarang re-test hasilnya keluar kelompok kepribadian yg sama terus loh. Haha, ga ada gerakan perubahan.

Kali ini, aku akan menganalogikan perasaan sebagai pedang. Kenapa pedang? Kok serem? Sebagai orang yang dominan perasaan, perasaan jadi hal krusial dalam menjalani hidup. Lebih-lebih aku cewek, yang notabene apa apa pake perasaan. Ketika dianugerahi pedang yang tajam, konsekuensinya adalah harus benar-benar bijak menggunakannya. Bijak dengan harus tetap melibatkan logika, yang jadi pekerjaan sulit-sulit gampang bagiku. Bagaimana pedang itu sebisa mungkin tidak melukai orang lain. Disadari atau tidak malah aku yang terluka. Haha, kalau dipikir ga adil tapi itu kenyataannya. Beruntungnya, aku bukan orang perasaannya dengan mudah dipengaruhi orang lain. Tapi tentang memikirkan perasaan orang lain tentang apa yang akan aku lakukan. Entahlah ini beruntung atau malah buntung.
-closed-

Tidak semua dekat mendefinisikan kebahagiaan. Bagaimana jika dekat malah ternyata salah satu tersakiti atau keduanya saling menyakiti? Karena tidak bisa melakukan apapun untuk tetap bersama. Karena terluka oleh pedang yang disimpan sendiri ditambah pedang miliknya yang mengenai, sebab ruang yang semakin rapat. Bilah pedang tidak bisa masuk ke sarung pedang, karena perasaan sudah membuncah. Menjauh menjadi pilihan tepat agar tak terluka sendiri atau tak saling melukai.

Kata siapa memeluk untuk yang terakhir kali ketika melepaskan seseorang yang kau cintai dapat membuatmu lebih kuat dan lega? Ketika mencintai orang yang tak bisa kau miliki, kupikir pedang sudah menancap setengah dijantungmu. Pelukan itu justru menusukmu dalam-dalam hingga ke dasar jantung. Saranku: jangan lakukan, larilah yang jauh. Terjang saja hujan lebat itu, jangan pula biarkan orang lain melihatmu menangis. Cukup kau saja yang tau, anggap saja kau bahagia. Kata orang, level cinta tertinggi adalah ketika kau turut berbahagia atas kebahagiaan orang yang kau cintai, walaupun pada akhirnya kau tidak bersamanya. Cih, omong kosong.

Apakah bahagia tapi terluka bisa disebut 'bahagia'?

Mustinya aku banyak-banyak bersyukur karena diberi keahlian dalam menyembunyikan perasaan.

Yang jelas aku tidak sampai hati untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang aku inginkan, apalagi soal hati dan perasaan orang lain.