March 2009

Sunday, March 29, 2009

DEALOVA















aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
aku ingin menjadi sesuatu yg mungkin bisa kau rindu
karena langkah merapuh tanpa dirimu
karena hati tlah letih

aku ingin menjadi sesuatu yg selalu bisa kau sentuh
aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
tanpamu sepinya waktu merantai hati
bayangmu seakan-akan

kau seperti nyanyian dalam hatiku
yg memanggil rinduku padamu
seperti udara yg kuhela kau selalu ada

hanya dirimu yg bisa membuatku tenang
tanpa dirimu aku merasa hilang
dan sepi, dan sepi

selalu ada, kau selalu ada
selalu ada, kau selalu ada


Mengapa suka??
  1. Liriknya mengguncang dunia
  2. Cocok bagi seseorang yang sedang 'falling in love' ataupun 'rindu' seperti aku
  3. Musiknya juga menambah keistimewaan lagu ini

Wednesday, March 18, 2009

Live In!!


Kegiatan ini berlangsung dari Minggu tanggal 15 Maret 2009 sampai 18 Maret 2009. Kelasku (X-12) kebetulan kebagian satu desa sama kelas X-9. Kelasku dan kelas mereka live in nya di desa Wirosari, kecamatan Patean, Weleri. Berangkat dari sekolah setelah apel sekitar pukul 08.00, wahahahha.... ternyata kelasku dapet bis yang bisa dibilang 'plus'. Perjalanan dari sekolah ke kantor kecamatan Patean menghabiskan waktu 2 jam. Jah, gila!! Kita nunggu pak camat keknya lebih dari 2 jam, kering!! Habis itu kita langsung menuju desa yang dituju.

Minggu, 15 Maret 2009

Sampai di balai desa, kami menurun - nurunkan barang bawaan dan bergegas menuju ke dalam balai desa. Disekeliling balai desa, orang tua asuh sudah bersiap - siap menjemput kami, tapi sebelum dijemput kerumah masing - masing kami sedikit diberi pengarahan oleh pak lurah dan wali kelas kami. kemudia kami berangkat menuju ke rumah orang tua suh masing - masing. Aku mendapat kesempatan berorang tua asuh sama dengan Oliviane Kurnia S (Anne) yaitu bapak Surip Winarto seorang perangkat desa.

Tiba dirumah orang tua asuh, saya dan Anne disuguhi makanan khas desa dan minuman. Kemudian kami dipersilakan terlebih dahulu sebelum akhirnya kami makan siang. Sekitar pukul 15.00, kami diajak pergi ke sawah bengkok (bengkok: gaji yg diberikan pemerintah kepada perangkat desa) untuk mengusir burung. Mengusir burung?? Iya, soalnya sawah bapak satu - satunya sawah didesa Wirosari yang sudah mulai bergabah dan menguning.

Bapak diberi sawah bengkok seluas 1,75 hektar. Kami berjalan menyusuri sawah bertujuan mengusir burung, sepanjang perjalanan kami diajari beberapa tekhnik mengusir burung, mulai dari jaring - jaring / orang - orangan sawah sampai teknik melempar lumpur dengan menggunakan bambu.

Setelah lelah berkeliling, kami beristirahat sejenak disemacam gardu ditengah sawah. Disana bapak bercerita bahwa perangkat desa mayoritas adlah seorang petani, awalnya saya mengira bahwa perangkat desa hanya bekerja di kantor.

Hari semakin sore, kamipun mulai menyusuri jalan pulang berupa hutan dan kebun. Sesampainya di rumah kami membersihkan diri (sekedar cuci - cuci), kemudian mengambil air wudlu dan sholat ashar. Lalu beristirahat. Setelah tenaga terkumpul, langsung mandi, sholat maghrib, makan malam dan pergi kerumah pak lurah buat kumpul sharing sekelas. Jarak dari rumah ke pak lurah 1,5 km. Aku, Meutia, Margaretha dan Dimas ternyata paling akhir dan ditinggal teman - teman sekelas lainnya.

Ternyata rute yang kami lalui benar - benar menyeramkan, jalana sepi gelap dan hanya berempat!! Setelah sampai dibalai desa jalannya semakin gelap. Pertamanya dari rumah sampai balai desa yang pegang senter itu Dimas, tapi setelah melewati balai desa si Dimas ketakutan. Disana keadaan kami sama - sama takut, dan aku berusaha untuk memberanikan diri buat memandu jalan temen - temen. Kita semua gandengan ato pegang tangan (sama? gak owg beda!!) selain itu juga deket - deketan sampe kita kalo jalan tabrak -tabrakan. Sebenernya aku paling pojok kanan tapi tiba - tiba.....

"Nur, tak gandeng? Wedi ki aku!!" (wedi = takut ; ki = ni)
Dimas gitu coba!! Gak nyangka banget, orang kek gitu takutnya sampe sebegitunya...
(buat Mimi -kalo baca- : Maaf, bukan maksud apa - apa kita semua ketakutan soalnya)

Semakin jauh tangannya semakin erat. Sebenernya gak gandeng sih dia pegang tanganku (siku maksudnya). Takut bikin kita semua keringet dingin, sampe akhirnya kita nyampe ke rumah pak lurah, disana kita dinanti - nanti soalnya gak dateng - dateng.

Hari selanjutnya ntar ya...
Pegel nulis trus
bye...