Monday, August 14, 2017

Balada Anak Tengah


Tulisan kali ini terinpirasi dari tidak lain dan tidak bukan adalah jang jang.... diriku sendiri. Krik krik.

Terlahir sebagai anak yang punya kakak dan adik membuatku secara alami memiliki predikat "anak tengah" (bukan jari tengah). Tepuk tangan gih.

Jadi anak tengah merasa lengkap karena punya kakak dan adik. Bisa manja-manja ke kakak dan tampil dewasa didepan adik.

Kata orang, anak tengah itu paling cemburuan. Karena eh karena. Kalah pesona sama anak pertama. Kalah lucu sama anak bungsu. Jadilah anak tengah yang tak nampak, tersembunyi dan tidak suka dibanding-bandingkan.

Berbicara anak ketiga.
Kata orang, anak ketiga itu beda dan keras kepala. Ada betulnya. Aku sering mengambil jalan dan melakukan tingkah yang beda dari kakak dan adikku. Sering tutup telinga mendengar "Menur aneh" atau "Menur ga jelas" atau "Ngapain kaya gitu sih". Seringnya ujung-ujungnya mereka setuju dan mendapati bahwa itu patut dilakukan. Hahaha. Percayalah, hasil lebih berbicara dibanding bualan. Action speaks louder than words.
Basa basi busuk.

Udah anak tengah, anak ketiga lagi!
Coba cari fakta anak tengah. Atau coba googling fakta anak ketiga. Njir, gue kombinasinya! Jadi mutan macem apa coba. Huff.
Oya, aku baru tau ternyata ada Middle Child Syndrom. Dan sadar bahwa ternyata aku pernah mengalami dulu masa-masa meninggalkan belasan tahun menuju kepala dua. Sekarang mah udah tua, ga boleh kaya anak kecil lagi. Masihlah ada bawaan anak tengah + anak ketiga. Cuman dengan tambahan kedewasaan (ah, masa).

Positifnya, kata mereka. Anak tengah itu peacemaker dan negosiator handal didunia. Hahahaha. Hei, anak tengah kita ga cuma bikin ricuh aja, bikin peace juga. Seimbanglah, tos dulu!

Salam anak tengah,
Menur - yang mau ujian semester (malah curhat)

Tuesday, August 8, 2017

Nikmat Sakit


Diberi sakit rasanya memang sama sekali tidak enak dan nyaman. Akan tetapi disisi lain Allah memberi waktu kita untuk istirahat, dan berdoalah bahwa sakit yang diderita mampu menjadi penggugur dosa yang bagai butiran pasir pantai ini. Diwaktu yang sama kita menyadari bahwa nikmat yang paling nikmat adalah sehat, juga masih diberi kesempatan hidup untuk terus menjadi lebih baik.

Ikhlas dan nikmatilah.
Jangan lupa semangat dan berjuang untuk pulih.
Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.
Allah yang menurunkan penyakit, Allah juga menurunkan obatnya.
Allah will always be there for you.

Saturday, August 5, 2017

Dunia?


Postingan malam hari ini disponsori oleh coffemix yang efek kafeinnya masih berasa. Ga biasa minum kafein, kalo terpaksa banget harus melek. Dipaksa melek buat overtime dikantor yang cahayanya kuning remang-remang emang butuh banget bantuan kafein abal-abal ala kopi pura-pura (tapi ngaruh banget ke akikah haha, dasar manusia ga kuat ngopi!😂)

skip. skip.

Kembali ke serius, anak-anak kantor hari ini punya soundtrack. Lagunya tadinya buat sesuatu yang lucu-lucuan gara-gara menunggu hilal 😅 tapi kalau didalami maknanya.

Hmmm.

Lagunya opick, dan baru googling itu judulnya "Khusnul Khotimah", begini cuplikannya.

terangkanlah.. terangkanlah..
jiwa yang berkabut langkah penuh dosa
bila masa tlah tiada
kereta kencana datang tiba-tiba

Selalu merinding dan merasa serem tiap denger lagu ini. Dan kenapa lagu lain ini juga terlintas dipikiranku, sama-sama Opick yang nyanyi.

bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu tlah terhenti
teman sejati tinggalah sepi

Kau tau kan hidup kekal itu dimana?
Sudah cukupkah kita membawa bekal buat diakhirat?
Yakinkah bahwa hidup didunia kita sudah didedikasikan untuk mempersiapkan hidup kekal diakhirat?
Hidupmu condong ke dunia atau akhirat?

Urip mung mampir ngombe
Hidup itu sebentar, antara adzan dan iqomah
Pastikan langkahmu berada dijalan yang berguna
Tak usah pedulikan apa kata manusia lain, cukup kau perhatikan apa kata Allah

"My religion is kindness"
Menurutku itu tidak cukup, ritual keagamaan itu perlu. Sebagai bentuk quality time antara kita dan Sang Pencipta. Agama itu pilihan. Dan pilihan itu untuk dijalani sebaik-baiknya. Jangan sampai kita memilih tapi enggan menjalankan kewajiban dan melakukan yang terbaik atas pilihan kita.

Satu quote favorit, aku lupa dapat dari siapa.
"Jangan takut sendirian, karena kalau kau mati juga sendirian."

Entahlah, setelah denger itu aku jadi berani melakukan apapun sendiri. Maksudnya belajar untuk memberanikan diri. Suatu keniscayaan bahwa "yang hidup pasti akan mati".

Suka ga suka.
Mau ga mau.
Siap ga siap.

That's why they called it "final destination"

#talktomyself

Tuesday, July 25, 2017

Menyimpan


Tidak semua perasaan harus diungkapkan, cukup disimpan sendiri. Karena menyadari ada hati lain yang lebih 'deserve' untuk dijaga perasaannya. Walaupun lagi-lagi mengorbankan diri sendiri.

Menyimpan perasaan bukan hal yang sama sekali mudah. Sulit, tapi tenang aku sudah ahli. Sakit, tapi rasanya itu jalan paling tepat yang diambil.

Akan datang masanya untuk tidak lagi memikirkan perasaan orang lain, untuk memenuhi ego diri. Membiarkan diri sendiri memilih mengungkapkan tanpa memikirkan dunia sekitar. Memilih jujur pada diri sendiri dan mengijinkan dunia tahu apa yang aku mau. Tak lagi mengorbankan perasaan untuk orang lain.

Di waktu dan suasana yang tepat, nanti..

Atau, malah..

Tetap memutuskan menurunkan ego, bungkam. Membiarkan hanya diri sendiri dan Allah yang tahu..

Monday, July 24, 2017

Jarak


Topik kali ini terinspirasi dari film random yang tiba-tiba malem ini aku tonton dari iflix. Sebenernya filmnya ga bagus-bagus amat, tapi ada satu celetukan yang ngena. Intinya kaya gini "kenapa kamu pindah ke kota ini? ada yang pengen kamu lupain?" Hahahahaha

Entahlah kenapa aku pengen membenarkan bahwa pertanyaan itu cocok diajukan buat orang yang pindah kota dengan alasan keinginan sendiri. Walaupun itu memunculkan dua opsi jawaban: 'ga ada ko' atau senyuman tanda setuju tanpa melanjutkan jawaban detailnya.

Sebagai orang yang pernah merantau dan doyan bolak balik luar kota, aku merasakan suasana, sikap, dan perasaan yang berbeda ketika kita berada dikota yang beda. Opini pribadi. Setiap kota punya kenangan dan kesan sendiri. Ketika aku tinggal di Bandung, rasanya lebih mudah melepaskan dan melupakan masalah di Semarang seiring aku meninggalkan kota tersebut. Atau ketika sudah kembali lagi ke Semarang kemudian sedang beraktifitas di Jakarta, masalah yang bikin pusing di Semarang tiba-tiba hilang begitu saja. Lega. Dan muncul kembali ketika pulang ke Semarang.

Hal itu semakin mendukung aku buat membenarkan statement pindah kota itu sangat efektif buat melupakan sesuatu dan memulai kehidupan baru.

Aku secara pribadi kagum pada pasangan LDR yang masih utuh hubungannya. Apalagi yang sebelumnya tinggal satu kota, kemudian keadaan memaksa untuk berjarak. Cobaannya semakin bertambah: lingkungan baru, menjaga kepercayaan dan usaha lebih untuk tetap berkomunikasi yang berkualitas. Tentunya pasangan yang berhasil mendapati level kebersamaan yang lebih tinggi.

Jarak membuat banyak aspek berbeda dan menemukan satu hal: menyadari bahwa kita butuh satu sama lain, atau ternyata hanya satu pihak saja.

Memang hal yang tidak mudah, banyak pasangan yang terelimimasi tahap ujian ini. Karena di kota lain lebih mudah melupakan. Karena di kota lain ada yang lebih 'ada' secara fisik. Karena kesibukan masing-masing. Karena suasana yang tak lagi sama. Karena...............pada akhirnya memang tidak ditakdirkan bersama.