Feeling

Sebagai orang yang ternyata setelah beberapa kali ikut test Myers–Briggs Type Indicator (MBTI) dengan hasil dominan Feeling, aku pengen nulis sedikit tentang hal ini: Perasaan. Btw, hasil tepatnya dari 16 pengelompokan kepribadian aku rahasiakan :p coba tebak aku yg mana. Dari SMA sampe sekarang re-test hasilnya keluar kelompok kepribadian yg sama terus loh. Haha, ga ada gerakan perubahan.

Kali ini, aku akan menganalogikan perasaan sebagai pedang. Kenapa pedang? Kok serem? Sebagai orang yang dominan perasaan, perasaan jadi hal krusial dalam menjalani hidup. Lebih-lebih aku cewek, yang notabene apa apa pake perasaan. Ketika dianugerahi pedang yang tajam, konsekuensinya adalah harus benar-benar bijak menggunakannya. Bijak dengan harus tetap melibatkan logika, yang jadi pekerjaan sulit-sulit gampang bagiku. Bagaimana pedang itu sebisa mungkin tidak melukai orang lain. Disadari atau tidak malah aku yang terluka. Haha, kalau dipikir ga adil tapi itu kenyataannya. Beruntungnya, aku bukan orang perasaannya dengan mudah dipengaruhi orang lain. Tapi tentang memikirkan perasaan orang lain tentang apa yang akan aku lakukan. Entahlah ini beruntung atau malah buntung.
-closed-

Tidak semua dekat mendefinisikan kebahagiaan. Bagaimana jika dekat malah ternyata salah satu tersakiti atau keduanya saling menyakiti? Karena tidak bisa melakukan apapun untuk tetap bersama. Karena terluka oleh pedang yang disimpan sendiri ditambah pedang miliknya yang mengenai sebab ruang yang semakin rapat. Bilah pedang tidak bisa masuk ke sarung pedang, karena perasaan sudah membuncah. Menjauh menjadi pilihan tepat agar tak terluka sendiri atau tak saling melukai.

Kata siapa memeluk untuk yang terakhir kali ketika melepaskan seseorang yang kau cintai dapat membuatmu lebih kuat dan lega? Ketika mencintai orang yang tak bisa kau miliki, kupikir pedang sudah menancap setengah dijantungmu. Pelukan itu malah menjadi sepenuhnya menusuk dalam-dalam ke dasar jantung. Saranku: jangan lakukan, larilah yang jauh. Terjang saja hujan lebat itu, jangan pula biarkan orang lain melihatmu menangis. Cukup kau saja yang tau, anggap saja kau bahagia. Kata orang, level cinta tertinggi adalah ketika kau turut berbahagia atas kebahagiaan orang yang kau cintai. Cih, omong kosong.

Apakah bahagia tapi terluka bisa disebut 'bahagia'?

Mustinya aku banyak-banyak bersyukur karena diberi keahlian dalam menyembunyikan perasaan.

Yang jelas aku tidak sampai hati untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang aku inginkan, apalagi soal hati dan perasaan orang lain.

Random Thought

Orang yang paling berpotensi menyakitimu adalah orang - orang yang memiliki ruang dihatimu.

Self Thought #1: Love Your Self

Bagiku, shopping itu bukan tentang hobby. Tapi tentang mengapresiasi diri sendiri. Memberi hadiah pada diri sendiri atas kerja keras yang dilakukan.
Apresiasi pada diri sendiri menjadi salah satu hal yang penting untuk mencapai tujuan 'mencintai diri sendiri'.
Tidak perlu merasa sayang untuk merogoh kocek untuk plesir ke tempat yang kamu inginkan, atau untuk mengupgrade ilmu.
Bahagia tidak melulu tentang materi. Kenangan dan pengalaman rasa - rasanya lebih tak ternilai.
Jika kau menemukanku tidak necis, tidak stylish dan tidak punya barang bagus nan branded, kau tau dimana muara nafkah yang kudapat ini berujung.

Pursuit of Happiness?

Ketika memutuskan pulang ke tanah kelahiran, bisa berkumpul lagi dengan keluarga dan berharap bisa menghabiskan banyak waktu dengan kawan lama. Berdiam diri dirumah tidak melakukan apapun, tetapi dikelilingi keluarga yang kita cintai menjadi momen yang tidak bisa dinilai dengan uang. Apalagi beranjak dari rumah dan pergi piknik bersama. Bahagia luar biasa. 
Setelah pindah kesini dan mulai menyadari, kita (aku dan kawan - kawan lama) sudah mulai sibuk dengan dunia masing - masing. Ada yang tetap dikota ini, ada pula yang pergi mengejar mimpinya, meninggalkan kota ini. Bertemu, bercerita dan berkeluh kesah tentang dunia masing - masing menjadi waktu yang sangat berharga dan menyenangkan untuk terus diulang. Aku rindu kita, kebersamaan kita.
Ketika memutuskan pulang ke tanah kelahiran, rasa - rasanya tak pernah absen dirundung rindu pada teman teman yang menemani hari - hari di tanah rantauan. Membunuh waktu bersama dalam kebersamaan sebagai pejuang perantau. Mencicipi kebahagiaan, amarah, kesedihan bersama yang membuat hatiku terpaut dengan kalian. Aku selalu rindu kalian. Tertawa kita, pertengkaran kita, tangisan sedih dan bahagia kita.
Maafkan aku, aku bukan orang yang bisa berbuat sesuatu yang manis untuk kalian. Aku kaku, tak mahir berkata kata dan canggung dalam memulai percakapan. Melihat kabar kalian yang sedang bahagia di social media membuatku bahagia, walaupun mungkin aku tidak terlibat dalam kebahagiaan itu. Aku rindu kita bahagia bersama dalam satu atmosfir yang sama.
Yang jelas, aku sayang kalian. Tersemat selalu dalam doa, selalu sehat dan bahagia dimanapun kalian berjuang. Kejar terus mimpi - mimpi kalian. Kalau kalian lelah, aku harap kalian mencariku. Aku selalu siap mendengar keluh kesah kalian dan memberi semangat.
Kita semua punya mimpi - mimpi. Aku juga perlu mengejar mimpi - mimpiku. Mengejar kebahagiaan, menurut standar kita. Aku punya kalian, dan orang - orang baru yang masuk kedalam kehidupanku. Aku harap aku menemukan orang - orang yang bisa membuatku nyaman dan bahagia, seperti kalian.
Doakan aku juga ya, berjuang demi kebahagiaan dan mimpi - mimpiku.
Semoga kita bisa dan mampu menyempatkan waktu untuk rutin bertemu.
Tertanda,
Menur, yang lagi rindu

Realistis? Idealis?

"Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ingin ingin itu banyak sekali"
- Doraemon's theme song

Ketika dihadapkan pilihan bahwasanya diberi 'anugerah' menjadi seorang yang banyak maunya dan menyadari bahwa dirimu lack of confindece buat making decision. Alhasil jadilah mikir mikir yang looping terus, sampai pada akhirnya minta bantuan orang lain buat bantu buat keputusan.

Pengen buka usaha secepatnya, pengen ngejar karir ke arah barat, pengen nikah tahun depan, pengen jadi ibu rumah tangga aja, pengen sekolah lagi, pengen sekolah terus, pengen liburan jauh sama temen temen, pengen ikut komunitas sosial, pengen umroh, pengen pengen pengen

Sampai saat ini, semuanya masih sebatas pengen ketika dihadapkan realita. Berusaha realistis dan idealis sama sekali usaha yang bertentangan. In my opinion. Ketika ideal kita pengen usaha aja, otak realistis kita berontak "Yakin? Sudah ada pekerjaan tetap yg bisa jadi tumpuan, ngapain melepas dan memulai sesuatu yang kita ga tau ujungnya? Yang pasti pasti aja lah." Ideal kita tentu tidak tinggal diam, ikut berontak. "Ikut orang itu ga bebas waktu, usaha kita belum tentu dihargai sesuai." Realitanya, kerja tidak bisa dibuat part-time dan bikin usaha juga ga bisa main main.

Yang bisa dilakukan sekarang tinggal berdoa dan berusaha. Semoga yang dipengenin dan baik buat kita bisa terwujud. Pasrah aja dikasih jalan apa, karena yang diberikan itu memang yang terbaik untuk kita.

Do the best, let God takes the rest!