Feeling

Saturday, June 17, 2017

Feeling


Sebagai orang yang ternyata setelah beberapa kali ikut test Myers–Briggs Type Indicator (MBTI) dengan hasil dominan Feeling, aku pengen nulis sedikit tentang hal ini: Perasaan. Btw, hasil tepatnya dari 16 pengelompokan kepribadian aku rahasiakan :p coba tebak aku yg mana. Dari SMA sampe sekarang re-test hasilnya keluar kelompok kepribadian yg sama terus loh. Haha, ga ada gerakan perubahan.

Kali ini, aku akan menganalogikan perasaan sebagai pedang. Kenapa pedang? Kok serem? Sebagai orang yang dominan perasaan, perasaan jadi hal krusial dalam menjalani hidup. Lebih-lebih aku cewek, yang notabene apa apa pake perasaan. Ketika dianugerahi pedang yang tajam, konsekuensinya adalah harus benar-benar bijak menggunakannya. Bijak dengan harus tetap melibatkan logika, yang jadi pekerjaan sulit-sulit gampang bagiku. Bagaimana pedang itu sebisa mungkin tidak melukai orang lain. Disadari atau tidak malah aku yang terluka. Haha, kalau dipikir ga adil tapi itu kenyataannya. Beruntungnya, aku bukan orang perasaannya dengan mudah dipengaruhi orang lain. Tapi tentang memikirkan perasaan orang lain tentang apa yang akan aku lakukan. Entahlah ini beruntung atau malah buntung.
-closed-

Tidak semua dekat mendefinisikan kebahagiaan. Bagaimana jika dekat malah ternyata salah satu tersakiti atau keduanya saling menyakiti? Karena tidak bisa melakukan apapun untuk tetap bersama. Karena terluka oleh pedang yang disimpan sendiri ditambah pedang miliknya yang mengenai, sebab ruang yang semakin rapat. Bilah pedang tidak bisa masuk ke sarung pedang, karena perasaan sudah membuncah. Menjauh menjadi pilihan tepat agar tak terluka sendiri atau tak saling melukai.

Kata siapa memeluk untuk yang terakhir kali ketika melepaskan seseorang yang kau cintai dapat membuatmu lebih kuat dan lega? Ketika mencintai orang yang tak bisa kau miliki, kupikir pedang sudah menancap setengah dijantungmu. Pelukan itu justru menusukmu dalam-dalam hingga ke dasar jantung. Saranku: jangan lakukan, larilah yang jauh. Terjang saja hujan lebat itu, jangan pula biarkan orang lain melihatmu menangis. Cukup kau saja yang tau, anggap saja kau bahagia. Kata orang, level cinta tertinggi adalah ketika kau turut berbahagia atas kebahagiaan orang yang kau cintai, walaupun pada akhirnya kau tidak bersamanya. Cih, omong kosong.

Apakah bahagia tapi terluka bisa disebut 'bahagia'?

Mustinya aku banyak-banyak bersyukur karena diberi keahlian dalam menyembunyikan perasaan.

Yang jelas aku tidak sampai hati untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang aku inginkan, apalagi soal hati dan perasaan orang lain.

Kesan: